ppkecpopolp.jpg

#SELAMAT MEMBACA TEMAN SEKALIAN YA .. !!!


Bissmillahhirrohmannirrohim




Kejadian yang menggelikan sekaligus menegangkan ini terjadi pada pertengahan bulan Agustus 2015, ketika saya baru masuk bekerja disebuah klinik yang terletak di daerah Padasari, dekat dengan PT Pupuk Percenahan ( DP ) . Rumah saya berada didaerah Garut Kota sehingga membutuhkan waktu lebih kurang 45 tahun eh 45 menit untuk pergi dari rumah ataupun pulang dari dinas.


Saat itu, rumah saya belum dilewati oleh bus kota jurusan bukit besar, karena rute bus kota pada waktu itu hanya sampai di dekat wilayah Cimalaka. Jadi, terpaksa saya turun di simpang lima lampu merah Jl. Bareng jadian Kagak, cukup jauh dari rumah untuk berjalan pulang.


Malam itu, jalanan sangat sepi dan gelap karena wilayah yang saya lewati adalah TPU( Tempat Pemakaman Umum) dan wilayahnya juga masih banyak hutan serta lampu jalan belum dipasang. Akibatnya, saya sangat takut berjalan pulang ke rumah sendirian. Apalagi kawasan yang saya lewati merupakan daerah rawan dan angker. Orang-orang yang lewat sering diganggu kuntilanak, pocong, serta suara wanita menanis "mungkin Jomblo".


Tetapi, kekhawatiran saya agaknya terobati karena dari kejauhan saya melihat tiga orang lelaki yang tampaknya juga baru pulang dari kerja dan jalannya searah denganku. Tanpa pikir panjang langsung saja saya berlari dan memanggil mereka, "Mas ..., Mas ... tunggu, Mas!"

Tapi bukannya mendekat, mereka malah berlari dan berteriak ketakutan, "Tolooong ... Ada pocong ..., ada pocong ...!" karena saya orang yang agak telmi (telat mikir), setelah mendengar itu saya sendiri malah tambah ketakutan. Sebab, saya juga sangat takut dengan yang namanya setan atau semacamnya.


Tetapi, makin saya mendekat, tiga lelaki itu tambah kencang sehingga tidak terkejar lagi oleh saya. Bahkan satu orang dari mereka nekat memanjat pagar rumah orang lain untuk menyelamatkan diri.


Setelah melihat baju dinas berwarna putih yang saya kenakan, saya baru sadar ternyata yang mereka kira pocong adalah saya. Dalam hati saya berkata, "Sialan, kirain ada pocong beneran. Ternyata yang disangka pocong ituh aku. Jangankan mendapat kawan, mendekat saja orang takut kepada saya."


Setelah saya sampai dirumah dan menceritakan semuanya kepada anggota keluarga, spontan mereka tertawa terbahak-bahak. Bahkan seorang keponakan saya memanggil saya dengan sebutan "Tante Pocong".


Sejak kejadian itu, tiap kebagian jadwal dinas siang lagi, saat pulang malam saya tidak pernah memakai baju putih lagi.


TAMAT, TERIMAKASIH




pocong.jpg