pencekik-misterius.gif


Rini berjalan dengan tergesa-gesa. Pekatnya malam dan kesunyian yang mencekik menambah kerisauannya. Jalan di kompleks perumahan dimana ia lalui tampak sepi menambah takut hatinya. Ya, rini memang risau dan takut karena sejak ia pulang dari mall tempatnya belanja ia merasa sedang dikuntit. Ah,kalo saja tak menonton berita tadi sore mungkin hatinya tak serisau ini,ditambah ia lupa diri tadi berbelanja karena banyak barang yang diskon sehingga lupa waktu.


Akhirnya kerisauan hatinya agak mereda juga ketika ia sampai dirumah. Segera ia mengunci pintu kuat-kuat. Setelah yakin tak ada yang menguntit ia pun segera berlalu kedalam kamar. Ah kalo saja ia tak berpisah dengan andre tentu ia tak setakut ini,tapi persetan. Andre lebih memilih nita temannya yang tak tahu diri dan menggunting dalam lipatan dan karena ia tak mau dimadu maka ia pun lebih memilih bercerai daripada dimadu.


memikirkan andre membuat kepalanya terasa pening. Segera saja rini membuka pakaiannya dan menuju kedapur tempat dimana kamar mandi berada. Kehangatan air yang menyiram kepalanya sedikit meredakan sakit kepalanya. Setelah mematikan air shower dengan hanya berbalut handuk rini segera melangkah keluar. Ia akan mencoba pakaian baru yang baru dibelinya tadi dikamar. Setelah memperhatikan bahwa jendela dan korden tertutup rapat ia masuk kekamar. Ia tak mau kejadian bulan lalu terulang ketika ia lupa menutup jendela dan tubuhnya yang sintal terlihat oleh joni tetangganya yang mata keranjang yang mana menimbulkan keributan karena istri joni melihat lantas mencakar suaminya serta menyindir sang janda bahwa ia sengaja menggoda suaminya.


rini memekik ketika ia masuk kamar dan menyalakan lampu melihat sesosok tubuh berada di pojok ruangan didalam keremangan kamar.


"janganlah kau berteriak atau kau ingin peluru ini bersarang di kepalamu sayang." desisnya yang membuat jantung rini bertambah kencang. Sosok itu maju dan ternyata ia lelaki yang masih muda dan wajahnya cukup tampan. Ia memakai sepatu karet dan ditangannya terdapat sepucuk pistol dengan sarung tangan karet pula.


"janganlah kau mencoba berteriak karena pistol ini memakai peredam." katanya menyeringai. "sekarang lekas kau buka handukmu dan naik ke tempat tidur."


"ja...jangan.." rini ketakutan apalagi ketika mata tamu tak diundang tak pernah lepas dari bawah perutnya. Ia mencoba menjerit tapi sayang sarung tangan karet itu keburu membekap mulutnya dan sebuah benda yang menyangkut dilehernya membuat suaranya tak dapat keluar.


~ ~ ~


suara raungan yang menjerit-jerit dari mobil polisi tak menyurutkan langkah kaki agus. Ia segera saja menyibak kain kuning yang mengelilingi tempat itu. Langkahnya baru terhenti ketika petugas berseragam itu menahannya namun setelah ia menunjukkan kartu identitasnya ditambah menyebutkan sebuah nama akhirnya ia diperbolehkan masuk. Segera saja ia mengeluarkan kamera andalannya untuk memotret momen yang berharga. Baru saja satu dua kali ia memotret terdengar teriakan yang menyuruhnya berhenti. Dilihatnya AKP hermansyah datang sambil membawa Lisa rekan seprofesinya.

"ah ternyata kau." rungut perwira tingkat 3 di kepolisian itu ketika melihat siapa yang memotret. Agus hanya menyeringai dan hendak melanjutkan aktivitasnya namun berhenti ketika AKP Hermansyah mengajukan pertanyaan menusuk. "kenapa kau tiba cepat sekali di TKP. Jangan bilang hanya kebetulan karena ini ketiga kalinya kau lebih cepat dari aku."


"aku dicurigai?"


"peristiwa ini membuat aku wajib mencurigai setiap orang termasuk diriku sendiri seandainya terjadi di rumahku sendiri bung wartawan." sahutnya kalem.


"ada temanku yang tinggal di kompleks perumahan ini pak polisi." kata agus sengaja menyebut nama pak polisi dengan suara menekan. "ia menelponku karena ia tahu aku seorang wartawan dan membutuhkan berita yang spesial seperti kematian wanita ini."


"kematian orang lain rejeki buatmu heh." sindir herman pedas.


"ah kau tak lebih baik,bawahanmu sering memalak di jalanan atau lampu merah." tukas herman sengit.


"oh ya,ku dengar kau sering mencatut namaku kalo kau kena tilang karena ngebut mengejar berita atau dicegat anak buahku seperti di luar tadi."


"kalau begitu kenapa aku tak ditangkap."


"karena bung agus." suara AKP hermansyah lembut." karena kau satu-satunya wartawan yang menulis berita sesuai keadaan dan tahu bagaimana menulis berita supaya tidak bikin gempar masyarakat bukan seperti wartawan lain yang mengejar sensasi dan oplah korannya semata".


"ah anda berlebihan pak herman" Agus terbatuk-batuk sebentar. "berkat bantuan andalah aku sering dapat foto exclusive dimana wartawan lain dilarang masuk dan.."


"dan dapat bonus-bonus dari pemimpin redaksi bukan,mau dapat bonus lagi?." Hermansyah membuka pintu.


agus hanya diam saja tapi mengikuti juga langkah sahabatnya dari kepolisian itu. Herman menyibak kain yang menutupi korban. Agak tertegun juga ketika ia melihat posisi korban yang bisa menimbulkan birahi kalo saja tidak dilihatnya darah dari mulut dan lehernya yang terkulai karena patah. Anak buahnya maju lantas melapor.


"korban?"


"Rini herdiansyah pak. Ia janda tanpa anak yang tinggal sendirian di rumah ini. Ia tewas sekitar 2 jam yang lalu"


"sebab kematian?"


"ia mati kehabisan nafas karena lehernya dicekik." petugas forensik disebelahnya yang kali ini bicara.


"sudah kau periksa yang melapor?"


"sudah pak,anton pemuda pengangguran itu memang salah karena ia masuk ke rumah janda yang disukainya ini tanpa ijin ketika ia menemukan tubuh korban tergeletak dikamarnya. Tapi ia punya alibi bahwa ia sedang main kartu di pos ronda bersama 5 temannya ketika sang janda tewas." jawab anak buahnya panjang lebar.


" jangan kau lepaskan dulu. Bawa ia ke kantor dan korek keterangan dari dia barangkali kita dapat informasi." kata hermansyah sengit lantas keluar kamar.


~ ~ ~


senja baru tiba ketika agus memasuki bar R&B. Musik yang menghentak dan rayuan seorang wanita tak menghalangi langkahnya untuk menuju ke pojok ruangan dimana berada seseorang. Orang itu sedang minum tapi ketika melihat agus ia meletakkan gelasnya.

"ada kemajuan?" agus membuka pembicaraan.


"tak ada." sungut herman yang berpakaian preman."bedebah terkutuk itu selalu tak lupa memakai sarung tangan karet dan sepatu karet tiap beraksi, selalu lihai bertindak tanpa meninggalkan jejak di TKP. Ia selalu mencekik korbannya dulu sampai mati baru setelah itu baru melampiaskan nafsu terkutuknya. Ini sudah korban kelima. Kau bisa menebak kira-kira korban selanjutnya?"


Agus hanya angkat bahu. "bukankah kalian menahan orang kemarin? "


"anton,ia punya alibi saat terjadinya pembunuhan itu."


"bagaimana dengan mantan suaminya?"


"Andre mantan suaminya memang tak punya alibi saat tewasnya mantan istrinya. Tapi..."


"tapi,kau tak mau peristiwa lalu terulang bukan." sahut agus kalem.


Sekilas terlihat mata AKP Hermansyah yang masih muda berkilat."uh kau malah mengungkit peristiwa celaka itu. Aku memang asal main tangkap anwar sobirin pengacara brengsek itu. Ia tak punya alibi pada saat tewasnya sang istri. Aku juga punya dugaan kuat ia ingin menguasai harta istrinya dan juga uang asuransi untuk bisnisnya,tapi.."


"tapi akhirnya kau lepaskan juga karena tak ada bukti bukan."


muka herman memberengut." apa boleh buat,saat ia kukurung untuk mengorek keterangan ternyata besoknya si terkutuk pencekik misterius itu malah beraksi lagi seakan mengejek kami. Akhirnya ia kami bebaskan malah ia balik menuntut kami. Ah, kalo saja si haram jadah itu tertangkap akan kucekik dia ditiang gantungan seperti ia mencekik para korbannya."


Agus tertawa."sebelum kau lakukan itu jangan lupa beritahu aku."


herman mendengus."supaya koranmu laku bukan. kau tentu tahu,masyarakat mulai gusar karena korban terus berjatuhan. Aku sudah ditekan oleh atasanku. Mungkin dimutasi atau diturunkan pangkat kalo tak segera membongkar kasus ini." herman diam sebentar lantas berteriak keras ke arah lain. "hai, tambah wisky nya cepat."


~ ~ ~


hari sudah hampir tengah malam ketika Agus keluar dari bar R&B. Dengan sempoyongan ia keluar dan menuju ke tempat parkir. Sekilas ia melirik kedalam bar. Kasihan kau herman hati kecilnya berbisik tapi persetan,bukankah itu sudah tugasnya pikirnya. Dengan tersaruk-saruk ia masuk ke dalam mobilnya. Agus berputar-putar kedalam kota dan agak memperlambat laju mobil ketika melihat keramaian dipinggir jalan tapi lantas menginjak gas. Ia tahu pembaca koran tak akan tertarik dengan kecelakaan mobil yang menyeruduk sebuah pohon dan ia tak akan dapat bonus kalo menulisnya seperti bonus besar yang didapatnya kemarin pagi sehabis mendapatkan foto sang janda. Dilihatnya jam tangannya lantas segera ia memacu mobilnya ke sudut kota. Ditengah keremangan lampu malam tampak sesosok tubuh mengincar mangsa dipinggir jalan.


"mau jalan-jalan?" agus menyapa sambil melirik dada yang membusung seakan ingin dijamah oleh tangan-tangan nakal saat ia membungkuk, yang disapa mendekat lantas tersenyum. Tanpa menyahut ia segera masuk lantas menutup pintu.


"ah ternyata kau tampan,tak sia-sia aku menunggu." katanya sambil gelayutan manja. Agus hanya tersenyum sambil melihat sekeliling.


"berapa..." belum selesai Agus bicara sang wanita sudah menjawab."untuk lelaki setampan kau tak usah bayarpun tak apa asal kau bisa puaskan aku." katanya sambil mengerling. Agus hanya tertawa lantas menghentikan mobilnya.


"kurasa disini tempat yang cocok bukan?" agus mengedarkan pandangannya,taman kota ini memang sunyi sepi kalo malam apalagi sejak ada pencekik misterius. Sang pelacur pun mengerling lagi."kau pintar memilih tempat."


"kau duluan saja disana." agus menunjuk sudut taman yang gelap."aku mau mengambil sesuatu."


" tapi jangan lama-lama ya,aku sudah tak tahan nih." pelacur itu tersenyum sambil mencopot kancing baju atasnya. Setelah sampai disudut taman segera dicarinya tempat yang nyaman. Baru saja ia rebahan dan hendak mengatur posisi yang merangsang tiba-tiba dilihatnya sepasang sepatu karet berada dibelakangnya membuatnya terkejut.


"ah kau." katanya tertawa ketika melihat agus. Agus tersenyum lantas membetulkan sarung tangan yang ia pakai. Melihat sarung tangan itu senyum perempuan itu langsung menghilang,matanya pun membesar seakan tak percaya.


"mustahil...kata mereka kau tidak suka pelacur. Korbanmu..."


"memang betul sayang aku belum pernah mencoba dengan pelacur. Tak ada salahnya bukan aku mencobanya dan kau korban pertamaku."


melihat hal itu sang wanita mencoba lari. Sayangnya kakinya terantuk dan tanpa ampun ia pun terhempas.


"jangan bunuh aku,kumohon jangan bunuh aku. Aku akan berikan uang dan perhiasanku tapi..."


"tapi sayangnya aku tak butuh semua itu." Agus menyeringai buas. Melihat hal itu sang pelacur mencoba berteriak,sayang teriakannya hanya sampai ditenggorokan karena sarung tangan karet itu keburu menutup mulutnya rapat-rapat.





cikande, 18 agustus 2015.



cerpen lainnya:



sarilah.jpgHanya iseng menulis cerpen picisan yang tak berarti jadi harap maklum kalo EYD nya tidak benar. Kalo memang berniat membantu harap beritahu cara menulis EYD yang benar agar ke depannya bisa menulis cerpen lebih baik, Terima kasih.