cerpen.jpg


Matahari sudah hampir terbenam diufuk barat tapi panasnya masih terasa,mungkin memanggang dosa-dosa manusia yang banyak berbuat keburukan. Agus,penghuni kost baru dimana kami tinggal tampak masuk sambil membawa seorang gadis sambil tersenyum bangga. (maklum,sudah tinggi semampai cantik pula wajahnya). Sambil mengerling pada evan yang sedang duduk di bangku sambil main hp ia lantas masuk kekamar lantas mengunci pintu rapat-rapat. Evan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memuji keberuntungan agus.



Tak sampai semenit tiba-tiba terdengar keributan dari kamar agus, DiSusul oleh suara memaki-maki dari sang gadis. Tiba-tiba pintu terbuka lebar bagai hendak direnggut paksa dari engselnya. Gadis itu lari menghambur dari kamar lantas berpapasan dengan evan yang hendak menuju ke beranda kost dengan maksud tidak mengganggu keasyikan agus. Wajahnya tampak merah padam,rambutnya agak kusut dan salah satu kancing bajunya tampak lepas.



Evan yang agak usil lantas menegur."kok minggat buru-buru neng."

"minggat nenekmu." jawab sang gadis, sewot.

di damprat seperti itu evan sewot. Segera saja ia tarik lengan sang gadis sehingga muka mereka berhadap-hadapan hampir bersentuhan."marah sih marah neng,tapi nenek saya jangan dibawa-bawa."



"Lepaskan tanganku." jerit sang gadis."kalau tidak..."

"Kalau tidak..."jawab evan usil."Kau akan menciumku juga ya."



sayang keusilan evan berbuah naas. Pipinya tiba-tiba dihinggapi benda basah. Murka karena pipinya diludahi evan segera saja melepaskan tangannya lantas tangannya bergerak cepat keatas. Sang gadis menjerit kaget,mulutnya menggerimit seperti mengucapkan sesuatu lantas segera menghambur keluar dari kamar kost sambil terisak sambil memegangi pipinya.



"Hahaha... Kena juga kau oleh anjing betina itu." terdengar suara tawa agus dari belakang. Mendengar suara tawa dari sang biang kerok kejadian evan tentu saja jengkel. Segera saja ia mendamprat agus. "anjing betina, kalo ia anjing betina maka kamu anjing jantannya huh." evan mendengus lantas melanjutkan." kalo kau anjing jantan maka kau pantasnya dikebiri."

"lho kok..."

"gara-gara nafsu bejatmu itu aku kena getahnya. Seumur hidup baru kali ini muka ku diludahi orang,oleh seorang gadis lagi." rungut evan panjang pendek.

"kasihan."



"apa kau bilang."teriak evan sambil melotot. Melihat hal itu agus segera reda sifat usilnya lantas berkata sungguh-sungguh."maaf kawan, maaf. Aku hanya main-main saja,sungguh tak kukira akibatnya akan begini." melihat sang teman masih dongkol juga ia segera berkata."perutku lapar dan ingin makan sate. kau sudah makan belum?"

evan hanya diam saja. Tetapi ketika agus keluar dan tak lama kemudian kembali dengan sebuah bungkusan kecil lantas masuk kekamar evan mengikutinya juga.



sambil memakan sate iseng-iseng evan bertanya."siapa sih pacarmu itu."

"mahasiswi baru di kampus. Ia tadinya terlambat mendaftar tapi berkat campur tanganku ia akhirnya diterima. Berkat aku juga ia tak dihukum ketika ia sering bolos ketika dipelonco. Aku sudah keluar uang banyak untuk mengajaknya menonton,jalan-jalan atau memberi ia hadiah. Baru tadi aku minta imbalan nyata dari dia. Eh...baru diraba-raba ia sudah kesetanan. Hampir saja ini ku kena tendang."kata agus sambil menunjuk kebawah. "mujur aku jagoannya kalo soal berkelit." katanya sambil tertawa,tapi habis tertawa wajahnya berubah murung. "sekarang aku sangat malu van, kalo ia buka mulut bisa geger orang sekampung."

"ia masih satu kampung denganmu?"

"ho'oh,masih satu RT malah. "

"astaga,dan kau tadi hampir memperkosanya." evan geleng-geleng kepala.

"tak ada maksudku sejauh itu,cuma meraba-raba dikit saja kok." tangkis agus."kau tahu aku sudah punya sarilah,pacar tetapku."

"lantas mengapa kau tadi..."

"iseng kawan,cuma iseng!"

"iseng yang mencelakakan."rungut januar lantas meraba pipinya yang habis diludahi sigadis." untuk apa yang ia perbuat padaku gus,ia harus meminta maaf padaku."

Apa! Si Lastri minta maaf."

"Oh,jadi namanya lastri."

"Sri Sulastri nama lengkapnya. Ada minat kawan?"

"minat apaan."

"alah jangan pura-pura van."

"eh tapi aku belum..." tangkis evan.



"sudah waktunya evan."jawab agus cepat-cepat." sudah waktunya kau cari pasangan hidup. Kuliahmu sebentar lagi selesai. Kau juga punya pekerjaan tetap yang kalau aku tak salah hitung cukup buat makan kamu dan istrimu. Nah lalu sampai kapan kau menjomblo terus."

"istri,kata siapa aku mencari istri."

"aku"

"bah,bahkan calonnya saja belum lahir." rungut evan.

"sudah van,calon istrimu sudah lahir bahkan begitu lahir sudah pula meludahimu." agus tertawa.



"brengsek kau gus."

"brengsek yang sekali-kali bisa jadi mak comblang."sahut agus kalem.

"setelah apa yang kau lakukan padanya! Jangan-jangan melihat muka mu pun ia tak sudi.

"berani taruhan?"

"Ok."



Evan memang tidak bersungguh-sungguh ketika ketika bertaruh dengan agus,tapi agus sebaliknya berjuang keras untuk memenangkan taruhannya. Ya,agus ingin berbuat yang terbaik buat sahabatnya satu kost ini yang sudah banyak membantunya. Belakangan baru evan tahu kalo agus telah mendatangi rumah pamannya lastri,tempat dimana sang gadis menginap selama jadi mahasiswi. Pertama tentu saja agus meminta maaf atas kejadian kemarin. Agus berdalih peristiwa itu sebenarnya tak perlu terjadi kalo agus tak terbujuk rayuan setan.



"lastri bisa kalap karena hal itu,tapi aku tahu sebenarnya hati lastri itu lembut,selembut sutra." kata agus yang hanya disenyuman oleh tuan rumah sementara lastri hanya diam saja.



setelah beberapa hari dan hati lastri sudah selembut sutra barulah agus membeberkan perihal peristiwa di tempat kost yang menimpa evan seraya menyampaikan permintaan evan bahwa lastri harus minta maaf,tentu saja ketika hanya berdua dengan lastri. Sri sulastri tentu saja berdalih bahwa ia melakukan hal itu karena evan menghalangi langkahnya. Tapi agus tak kurang akal lantas membalikkannya. Agus yang memang jago bicara akhirnya membuat lastri tak berkutik dan akhirnya lastri bersedia minta maaf.



Melihat umpannya sudah berhasil maka agus pun mendesak lastri minta agar lastri minta maaf secara langsung saja pada evan. Agar sama-sama enak,kata agus dan lastri pun akhirnya menurut karena ia tak punya pilihan lain. Masalah baru timbul karena lastri tak mau ke tempat kost itu,takut kau kesetanan lagi,begitu alasan lastri dan karena evan juga tak mau datang ke rumah sang gadis dengan alasan tak pantas ia menyodorkan diri karena yang salah lastri akhirnya agus pun kembali pegang peranan agar lastri dan evan ketemuan.



rembulan tampak tersenyum dari balik awan melihat manusia sibuk dan terburu-buru, terburu-buru mengejar waktu. Salah satu manusia yang terburu-buru itu adalah evan. Evan segera membayar ongkos ojeknya lantas menuju gedung bioskop. Saat hendak mengantri di loket tiba-tiba ia menyenggol seseorang dan ketika dilihatnya Ternyata agus. Agus tampak tersenyum sementara lastri dibelakangnya berdiri kikuk.



saat sedang asyik ngobrol dengan evan,tiba-tiba agus mengeluh sambil memegangi perutnya. "aduh,perutku mulas nih. Pasti gara-gara makan bakso kepedesan tadi. Maukah kau menggantikan aku nonton van?" seru agus sambil mengacungkan 2 lembar tiket.

"dan yang selembar lagi?" celetuk evan berlagak pilon.

"aku sobek saja,atau kau anggap mubadzir lastri."

"mubadzir..." seru sulastri sambil tersipu-sipu.



akhirnya evan nonton berdua dengan lastri. Ternyata film yang kami tonton adalah film horor. Sudah setengah jam evan dan lastri berduaan tapi masih kaku juga. tak ada yang membahas masalah di kost apalagi permintaan maaf. Diliriknya lastri ia tampak tenang-tenang saja padahal evan sendiri agak seram dengan filmnya. Mungkin dia sudah sering nonton film horor dengan agus.



"tidaaakk!" teriakan disamping evan disusul tangannya dicengkeram membuat jantung evan terasa copot. Sang pencengkeram lantas melihatnya dan tersipu-sipu. "maaf."kata gadis disebelah evan lantas melepaskan pegangan tangannya.

evan hanya tersenyum,tiba-tiba ia dengar suara menyeletuk."enak ya tangannya dipegang."

"oh ya,jujur saja aku lebih suka tanganku dipegang kamu."

"masa?" lastri memandang kearah evan,evan pun balas memandang. Tiba-tiba lastri tersenyum, senyum yang menandakan dibukanya hubungan mereka.





cikande, 12 agustus 2015



cerpen lainnya:

ku antar kamu pulang

cinta diam diam