Assalamu'alaikum Wr.Wb

Setiap orang pasti pernah merasakan jenuh. Jenuh dengan diri sendiri yang tetap begini-begini saja. Jenuh dengan rutinitas / perbuatan yang dilakukan, yang sampai sekarang tidak pernah berganti. Jenuh dengan sikap diri sendiri yang tak kunjung berubah menjadi lebih baik, Dan berbagai alasan lainnya.


terkadang fikiran sudah melesat jauh, "aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, aku sadar bahwa yang kulakukan salah. Maka dari itu aku harus berbenah dan berbalik arah mengikuti jalan yang benar". Lalu disisi lain bertanya lagi, "jalan yang benar itu jalan yang bagaimana, jalan yang seperti apa ?". Dan tanpa harus berfikir panjang lebar diri ini menjawabnya bahwa Jalan yang benar itu adalah jalan yang diridhai-NYA, jalannya orang-orang yang beriman. Iya, diri ini begitu yakin.


Sudah tak terhitung berapa kali telah berfikir untuk berubah menjadi lebih baik, namun kenyataannya tak lebih dan tak kurang tetap seperti ini. Keinginan yang tak sesuai dengan kenyataan. tepatnya, ingin berubah tapi kenyataannya tak kunjung berbenah dan berubah.


banyak kata-kata yang terlihat dan terdengar, "keluarlah dari zona nyaman ! Bangkit dan berubahlah !". Namun lagi-lagi diri ini menyangkal. Zona nyaman ? Oh, kurasa tidak. Zona nyaman itu disaat diri sendiri nyaman dengan perilaku yang dilakukan sehari-hari. Tapi nyatanya sekarang ini tidak nyaman dengan perilaku sehari-hari, perilaku yang masih jauh dari yang seharusnya diterapkan, yang benar menurut pedoman hidup yang sesungguhnya. Keinginan untuk berubah sudah memenuhi otak, namun tidak juga tergerak melakukannya. Diri ini tidak nyaman. Sudah tidak nyaman lalu harus keluar dari zona nyaman ?. bagaimana maksudnya, membingungkan !.


Kalau tidak nyaman maka harus mencari cara supaya nyaman. Kalau itu baru sependapat. Mulai dari sekarang harus berubah menjadi lebih baik, namun melakukannya harus nyaman. Nah, itu berarti harus meyakinkan diri sendiri dengan niat yang ikhlas dan tulus supaya jiwa ini tergerak untuk melakukan kebaikan.

Ajakan untuk memeluk agama saja tidak ada paksaan, "laa ikrahaa fiddiin", maka diri ini juga tidak mau dipaksa, Kalau dipaksa nanti malah tertekan. Diri ini harus berubah dengan ikhlas dan tulus.


become abetterpeople.jpg

Jika diri sendiri tetap tak berbanah dan berubah. Apa cukup kalau hanya begini-begini saja kelak mampu lolos dari jembatan yang akan mengantarkan pada kehidupan yang abadi. Sedangkan yang menentukan mudah atau sulitnya untuk melewati jembatan tersebut adalah perbuatan kita selama di Dunia ini.


Dan tersadar, ternyata fikiran ini begitu kalut, kacau, amburadul,


"yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik"

"wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku diatas agamamu"

Orang yang selalu berjalan pada kebenaran akan mendapat berkah dan ketenangan. Namun, orang yang berjalan pada keburukan / kesalahan maka jiwanya tetap tidak akan tenang. Pastinya yang diharapkan ketenangan, bukan ?. Itu berarti diri ini harus memperbaiki diri dari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik.


Wassalamu'alaikum Wr.Wb