tagihan-maut.gif


Agus tampak tersentak ketika sebuah tangan halus menepuk pelan pundaknya. Yang menepuk tampak tersenyum lantas berujar. "mas agus kok kaget,apa aku mengejutkanmu?"

"ah ngga kok sayang." kata agus cepat lantas mencium pipinya. Lastri tampak menggeliat."malu ah,banyak yang melihat." katanya lantas melirik dan melihat beberapa orang melihat mereka sejenak lantas meneruskan aktifitas mereka.

"malu kenapa,toh ini pesta kita sayang." katanya lantas melirik kebawah,kearah perut istrinya lantas berbisik lagi. "bagaimana jagoan kita,apa ia bertingkah lagi?"



"iya,dari tadi ia bertingkah lagi seperti bapaknya." katanya tersenyum tapi senyumnya lantas hilang ketika lantas ia menutup mulutnya. Melihat hal itu agus segera mengomel. "sudah aku bilang kau sebaiknya beristirahat saja dikamar menjaga kandunganmu tapi kau paksa ikut juga karena tak enak pada tamu." segera saja agus taruh gelas dimeja lantas ia menyapu pandangan sekeliling."maaf saudara-saudara semua. istri saya tak enak perutnya jadi mohon maaf aku tinggal sebentar."



"ya sudah gus,kau memang harus menjaga lastri." kata seorang tua bijaksana.

"tapi ingat gus,hari masih sore nih. Jangan kelamaan berduaan saja dikamar ya. Ingat masih ada kami disini."celetuk sebuah suara usil membuat lastri tersipu. Ketika agus melihat ternyata herman sahabat karibnya.

"ah kau man, aku tahu sebenarnya kau yang tak sabar ingin minggat dari sini karena kau ingin segera masuk kamar dengan istrimu bukan." kata agus yang diikuti tawa berderai dari tamu undangan lain. Herman memaki panjang pendek sementara istrinya tampak salah tingkah,maklum herman memang baru menikah.



agus meletakkan lastri dengan hati-hati dikasur. Diciumnya perut sang istri. "bagaimana,sudah baikan?"

"sudah mas agus,obat dokter tajri memang manjur." kata lastri tersenyum lantas segera berkata."kau kembalilah ke pesta,tak enak pada para tamu nih."

"dengan keadaanmu seperti ini,aku malah ingin mengusir mereka semua." lastri tertawa mendengar jawaban suaminya lantas segera mencium pipinya."aku baik-baik kok sayang."

"beneran?"

yang ditanya mengangguk. Setelah merapikan bantal dan selimut agus segera berlalu sambil tak lupa berpesan. "kalau ada apa-apa segera saja beritahu bi ijah. Aku akan segera datang."



setelah ditinggal suaminya lastri menggeliat. Obat dari dokter langganan keluarga itu memang manjur sehingga lastri kini agak nyaman tidak mual lagi. Lastri memandang sekeliling,sebuah kamar yang mewah tak kalah dengan kamar hotel bintang 5 saat mereka berdua berbulan madu di eropa sana. Tiba-tiba pandangan lastri tertuju pada lampu hias yang ada ditengah ruangan,sebuah lampu hias model terbaru dengan berhiaskan kaca seperti berlian dan ujung besi yang lancip ditengahnya tepat diatas ia berbaring. Lastri memang agak ngeri kalau lampu itu jatuh. bisa saja ia minta suaminya memindahkan lampu itu,agak kepinggir misalnya tapi sayangnya hal itu akan merusak keindahan ruang kamarnya. Lagi pula lastri juga menyukai lampu itu,terutama bayangan yang muncul dari lampu itu saat ia dan suaminya bercumbu menimbulkan sensasi tersendiri yang mana menambah rangsangan. Lagi pula ia sudah mendapat garansi dari pemasang lampu itu. Lampu itu diikat dengan kawat baja terbaik pada tiang plafon dan disekrup yang kencang. "gempa pun tak akan bisa menjatuhkannya." katanya menjamin agar tuan rumah tenang ketika ia ditanya. Tapi kini lastri resah memandang lampu itu, entah keresahan yang dari mana datangnya.



keresahan yang sama juga di alami agus saat ia kembali ke ruang pesta. Entah mengapa ruangan pesta tempatnya berada tiba-tiba dingin. Padahal sebelumnya hangat karena ia telah menyuruh para pembantunya untuk menutup jendela rapat-rapat. Ia membalas satu dua anggukan pada rekan-rekan relasi kerja lantas Tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang. Orang itu adalah seorang gadis cantik disamping marjono,bawahannya dikantor sekaligus teman ngobrol dan berbagi cerita kalo agus ada masalah. Marjono adalah bujang tua dikantor. Agus sering menanyakan kenapa ia belum kawin-kawin,"belum ada yang cocok." kilahnya. Gadis itu memakai pakaian merah,kontras dengan warna kulitnya yang putih dan dandanannya menandakan ia tahu model terbaru untuk ke pesta. Ah,kalo saja ia memakai pakaian yang sering ada di kaki lima atau rambutnya yang disanggul dibiarkan terurai maka ia menyangka kalo gadis itu adalah wulan. Wulan adalah pacar agus waktu dulu ia pertama masuk kerja. Wulan seorang gadis cantik berkulit putih. Padahal dari wajahnya sepantasnya ia jadi rebutan. Ia pemilih mungkin,begitu kata herman ketika ia tanya kenapa wulan tak punya pacar. Kalo begitu aku beruntung dong,begitu kata agus ketika itu apalagi ternyata wulan juga sangat mencintainya dan rela menyerahkan segalanya buat sang kekasih. Agus mabuk kepayang dan sering melakukan perbuatan terlarang bersama kekasihnya di kontrakkan. Ia baru berhenti ketika wulan datang dengan wajah murung dan berucap."aku terlambat tiga bulan mas."



ributlah mereka karena agus belum siap ber rumah tangga dan hendak mengejar karir. Akhirnya agus menemukan jalan keluar."kita gugurkan saja kandunganmu."



tidak! Aku mau anak ini lahir,begitu kata wulan sengit apalagi ini merupakan cinta pertamanya. Agus hanya mengangkat bahu lantas pergi ke tempat lain di iringi kutuk dari wulan."manusia terkutuk, aku pasti akan datang mengganggumu dan keluargamu." serta sumpah serapah lainnya yang hanya ditanggapi dengan cuek oleh agus,maklum ia sedang mendekati lastri,anak bos tempat dimana ia bekerja sekarang. Ia baru kaget dan menyesal ketika herman temannya memberitahu bahwa wulan mati bunuh diri dengan pisau panjang yang menembus jantungnya membawa serta bayinya ke alam kubur.



"eh,ada apa ini." kata agus tergagap dari lamunan masa lalu ketika melihat para tamu undangan sudah mengelilinginya tanpa menyadari diantara para tamu itu adalah gadis tadi.

"lantas kau pikir untuk apa kue tar yang besar itu,untuk kau makan sendiri hah. Jangan menyesali kalo nanti perutmu tambah buncit." dengus marjono yang diiringi tawa para tamu undangan. Agus tersipu kikuk lantas segera saja ia menuju meja dimana kue tar ulang tahun pernikahannya.



"ah rasanya kurang sreg kalo hanya agus seorang. Bagaimana kalo kita suruh lisa menemaninya memotong kue?" celetuk seseorang.

"setuju." tanpa dikomando semua tamu kompak berteriak membuat agus bingung.

lisa, lisa yang mana. Seingat agus tamu yang diundangnya ke pesta ulang tahun pernikahannya tak ada yang namanya lisa. Barulah setelah gadis yang diperhatikannya maju tersipu-sipu kehadapannya ia paham. Ternyata gadis yang bersama jono tadi.



"kenapa mesti aku?" protes sang gadis lembut ketika didorong oleh sesorang untuk maju menemani agus memotong kue.

"diantara kita semua hanya kamu dan jono saja yang belum menikah. Masa kita nyuruh jono yang motong kue." kata seseorang yang diangguki kepala sama yang lain. Terpaksalah lisa mengalah,agus dan lisa pun tampak kikuk ketika semua orang menyanyikan lagu ulang tahun. Agus tersenyum lantas memegang tangan lisa untuk memotong kue,dan tersentaklah agus. Tangan lisa dingin,sedingin es membuat tangan agus bergetar.



"dia gugup." celetuk seseorang

"mungkin takut dipergoki istrinya." sahut yang lainnya sehingga gema tawa kembali bergaung di ruangan pesta membuat agus salah tingkah dan lisa tersipu-sipu.

"biarlah kita semua menjadi saksi bahwa kita semua yang meminta agus ditemani lisa memotong kue,bukan agus yang meminta tangannya disentuh oleh gadis muda lagi cantik rupawan ini." kata seorang tua diantara mereka sehingga untuk kesekian kali tawa pun meledak di ruang pesta. Tawa para tamu sedikit meredakan kegelisahan agus. Ia tersenyum lantas dengan memegang tangan lisa ia pun memotong kue. Kue tar itu tingginya hampir satu meter dengan sepasang boneka pengantin ditengahnya serta huruf 4 didepannya buatan lastri sendiri karena lastri memang hobi membuat kue tak perduli apakah nanti ada yang memakan atau tidak. Dengan pisau panjang ia pun mulai memotong dan anehnya tangannya tanpa sengaja terarah ke arah jantung dari pengantin wanita. Tampak cairan merah keluar dari lubang boneka pengantin perempuan ketika pisau itu menembusnya. Agus sendiri agak kaget dan dilihatnya lisa tersenyum,senyum misterius.



agus memotong kue pertama yang pertama untuk marjono. "jodohmu kali ini jangan ditolak." jono pun mengumpat panjang pendek sementara tamu lain tertawa. setelah semua kebagian agus segera mendekati jono."brengsek kau jon,punya pacar baru tak bilang-bilang."

marjono tertawa."siapa bilang. Terus terang aku juga baru kenal dipesta ini."

"oh ya."

"ho'oh. Aku baru turun dari mobil ketika kulihat lisa datang. Ia menghampiriku dan bertanya apakah rumah dan alamat yang ia cari tak salah. Aku membaca dan memang betul rumahmu. Ia bermaksud datang kepesta ini menggantikan bibinya yang sakit. Nah dari pada aku sendirian aku gaet saja bidadari itu sebelum ia terbang kembali ke langit." jono tersenyum sendiri membuat agus pun senyum. Tiba-tiba seorang datang,setelah berbasa-basi sebentar orang itu berlalu sambil membawa marjono. Agus pun mengangguk,urusan bisnis tak pandang bulu biarpun ditempat pesta.



agus mengedarkan pandangannya dan melihat bidadari marjono sedang menyendiri sambil minum. Ia mendekati lisa."sendirian nih."

lisa terkejut dan menoleh lantas tersenyum."maaf aku datang tak diundang karena aku datang menggantikan seseorang." ia pun menyebutkan sebuah nama yang membuat kening agus agak berkerut karena ia tak mengenalnya. Apakah ia kenalan lastri,pikir agus. Ah gampang,itu bisa ditanyakan nanti.

"kau berasal dari banjar nona?"

"banjar?"

"banjar,desa disebelah timur kota." jawab agus untuk memastikan bahwa lisa ada hubungannya dengan wulan,sepupunya barangkali.

"anda berasal dari sana tuan?"

"ah..."

"aku senang dengan cara perkenalan anda." lisa tersenyum. "tapi sayang seseorang keburu menjembatani hubungan kita bukan."



agus blingsatan karena merasa disindir. Ia akhirnya pergi untuk menghampiri tamu lain. Saat itulah ia berpapasan dengan bibi nya lastri. Perempuan dengan dandanan mewah dan emas berlian berada dileher dan tangannya itu menghampiri agus.

"aku mau menjenguk lastri gus mau melihat keadaannya. Kau mau titip pesan apa."

agus menimbang sebentar."kalo ia butuh aku katakan saja,aku akan segera datang kepadanya." sang bibi tersenyum lantas Segera berlalu. Agus menengok dan dilihatnya lisa sedang berbicara dengan para tamu perempuan lainnya.



"kenapa kau melihatnya terus,jangan-jangan kau naksir dan berniat menjadikan simpananmu." agus terkejut dan dilihatnya jono sedang menyeringai meledek dibelakangnya. Akhirnya mereka berdua pun tertawa. Tiba-tiba jono berucap. "istrimu itu pintar buat kue ya,aku yakin ia memberi anggur pada boneka ulang tahun itu."

agus terkejut, ia pun mendekat dan melihat cairan berwarna merah masih mengalir dari lubang boneka tepat dibagian dada. Ia pun merasa bau tak enak dan berniat menciumnya tapi sesorang keburu mendahuluinya.

"ini darah,bau amisnya darah." kata jono sambil mengernyitkan dahi dan agus pun tersentak kaget.



tiba-tiba terdengar jeritan histeris. Semua tamu pada kaget semua lantas menuju sumber suara. Bibi nya lastri tampak pingsan dipegangi oleh beberapa orang. Dingin dan Merinding menjalari sekujur tubuh agus. Tanpa sengaja ia menoleh dan melihat lisa, ia tampak tersenyum, senyum menyeringai seperti mengejek.

"agus cepatlah kemari,istrimu."

teriakan jono membuat agus kaget. Buru-buru ia lari kekamar lastri. Lastri masih tetap ada dikamar,dengan posisi seperti ia tinggalkan sebelumnya. Bedanya kali ini ada lampu hias kamarnya yang menancap tepat dibagian dada,persis seperti wulan mati. Darah tampak memercik didinding dan genangan darah juga tampak dibawah kasur menimbulkan pemandangan mengerikan. Agus pun limbung dan tanpa sadar ia menoleh. Dilihatnya di ruang pesta tak ada siapa-siapa,tak ada lisa. Yang ada udara yang semula dingin di ruang pesta berangsur-angsur menghangat.


~ ~ ~ TAMAT ~ ~ ~








cikande,14 agustus 2015





cerpen lainnya:

kutukan desa kaligangsa

ku antar kamu pulang

misteri sepotong tangan

di jembatan kaligangsa ku menunggu

kumpulan cerpen misteri